Tuesday, August 18, 2015

Aku Memulainya


Setiap harinya aku berdiri menatap mereka. Bercanda tawa, mengomel satu sama lain, memaksa kehendak mereka masing-masing, berpelukan, dan segala tindakan lainnya.


Setiap harinya aku bersyukur masih dapat mengenal mereka lagi dan lagi, bersyukur untuk tersenyum karena mereka, dan bersyukur tidak kehilangan arah ketika semua menyerang duniaku.

Tapi setiap harinya aku tahu sesuatu, sisi gelap tetap selalu menunggu hadir setelah sinar menemani mereka.

Setiap harinya kami teringat bahwa sakit di hari itu akan selalu mengikuti keberadaan kami, bahwa salah satu dari mereka membuat kesalahan karena ada yang terlupa.

Orang lain mencoba mengandalkannya, mengambil alih dunia mereka, dan menghancurkannya. Empat bulan terberat dalam hidup berhasil kami lewati. Tertatih kami mulai menyeret badan kami yang sudah memar dan terluka untuk kembali memulai dari awal. Dia—yang membuat kesalahan—terbayang-bayang oleh rasa bersalah.

Empat tahun berlalu dan kesalahan lain datang. Aku—penjahat hati—memilih mendiamkannya meskipun berkali-kali ia meminta maaf. Aku sakit hati untuk yang tersakiti. Aku terpaksa terlibat. Mereka menyisakan luka. Mereka saling menyayat badan dan saling menyembuhkan. Aku hanya bisa mengamatinya.

Lalu tempo hari, kulihat wajah lelahnya. Ia juga sakit hati, karena dirinya sebagai kepala keluarga tahu masih saja merasa belum becus menopang keluarganya. Kemudian, dalam lelahnya ia tersenyum dan mengatakan ia baik-baik saja, kami baik-baik saja.

Hari ini, ketakutan masa laluku kembali muncul. Ketakutanku akan kehilangan mereka. Bahwa mereka sudah saling menghabiskan seperempat hidupnya untuk kami, dan akan menyelesaikannya hingga akhir hayat hidup mereka.

Aku melanjutkan hidup dan menemukan jalan lain untuk bala bantuan ketika aku lelah. Dan—orang lain itu—membuatku terbuka akan apapun. Sinar baru sekaligus teduh yang menenangkan. Dan membantuku melihat sisi pandang lain, bahwa sisi gelap juga perlu dimaafkan, bahwa itu semua untuk memaafkan diriku sendiri yang sering kalut.

Setiap harinya aku dan Dan tersenyum untuk saling membangun kekuatan baru, agar kami bisa bertahan hidup dari sisi gelap yang selalu mengikuti itu.

Setiap harinya kami bercengkerama untuk saling menyembuhkan dari luka mereka dan dunia Dan. Ketika dunia menyakitiku atau Dan, kami bersama karena Dan ada dan aku ada.

Kemudian hari lain datang menyergapiku akan ketakutan lain. Kehilangan Dan. Jarak, orang lain, waktu, bahkan komunikasi membatasi kami.

Aku mulai segan berbohong kepadanya yang memang pada dasarnya aku tak pernah berbohong. Bahkan ketika aku ingin mengatakan, ‘aku baik-baik saja’ yang sejujurnya tidak, kuputuskan urung kulakukan.

Aku selalu bersikap dan berkata jujur apa adanya setiap saat, hingga aku hampir lupa, kejujuran ini mungkin saja membebaninya.

Keadaan sulit selalu sukses menyadarkanku yang sering terbawa suasana bahagia. Suatu saat semua tokoh akan meninggalkanku atau aku yang meninggalkan mereka.


Lalu hidupku selalu dibayangi oleh waktu yang tak banyak kumiliki. Semua punya batas, dan semua hal harus kulakukan baik-baik.

No comments:

Post a Comment