Setiap
harinya aku berdiri menatap mereka. Bercanda tawa, mengomel satu sama lain, memaksa
kehendak mereka masing-masing, berpelukan, dan segala tindakan lainnya.
Setiap
harinya aku bersyukur masih dapat mengenal mereka lagi dan lagi, bersyukur untuk
tersenyum karena mereka, dan bersyukur tidak kehilangan arah ketika semua
menyerang duniaku.
Tapi
setiap harinya aku tahu sesuatu, sisi gelap tetap selalu menunggu hadir setelah
sinar menemani mereka.
Setiap
harinya kami teringat bahwa sakit di hari itu akan selalu mengikuti keberadaan
kami, bahwa salah satu dari mereka membuat kesalahan karena ada yang terlupa.
Orang
lain mencoba mengandalkannya, mengambil alih dunia mereka, dan
menghancurkannya. Empat bulan terberat dalam hidup berhasil kami lewati. Tertatih
kami mulai menyeret badan kami yang sudah memar dan terluka untuk kembali
memulai dari awal. Dia—yang membuat kesalahan—terbayang-bayang oleh rasa
bersalah.
Empat
tahun berlalu dan kesalahan lain datang. Aku—penjahat hati—memilih mendiamkannya
meskipun berkali-kali ia meminta maaf. Aku sakit hati untuk yang tersakiti. Aku
terpaksa terlibat. Mereka menyisakan luka. Mereka saling menyayat badan dan
saling menyembuhkan. Aku hanya bisa mengamatinya.
Lalu
tempo hari, kulihat wajah lelahnya. Ia juga sakit hati, karena dirinya sebagai
kepala keluarga tahu masih saja merasa belum becus menopang keluarganya. Kemudian,
dalam lelahnya ia tersenyum dan mengatakan ia baik-baik saja, kami baik-baik
saja.
Hari
ini, ketakutan masa laluku kembali muncul. Ketakutanku akan kehilangan mereka. Bahwa
mereka sudah saling menghabiskan seperempat hidupnya untuk kami, dan akan
menyelesaikannya hingga akhir hayat hidup mereka.
Aku
melanjutkan hidup dan menemukan jalan lain untuk bala bantuan ketika aku lelah.
Dan—orang lain itu—membuatku terbuka
akan apapun. Sinar baru sekaligus teduh yang menenangkan. Dan membantuku
melihat sisi pandang lain, bahwa sisi gelap juga perlu dimaafkan, bahwa itu
semua untuk memaafkan diriku sendiri yang sering kalut.
Setiap
harinya aku dan Dan tersenyum untuk saling membangun kekuatan baru, agar kami
bisa bertahan hidup dari sisi gelap yang selalu mengikuti itu.
Setiap
harinya kami bercengkerama untuk saling menyembuhkan dari luka mereka dan dunia
Dan. Ketika dunia menyakitiku atau Dan, kami bersama karena Dan ada dan aku
ada.
Kemudian
hari lain datang menyergapiku akan ketakutan lain. Kehilangan Dan. Jarak, orang
lain, waktu, bahkan komunikasi membatasi kami.
Aku
mulai segan berbohong kepadanya yang memang pada dasarnya aku tak pernah
berbohong. Bahkan ketika aku ingin mengatakan, ‘aku baik-baik saja’ yang sejujurnya
tidak, kuputuskan urung kulakukan.
Aku
selalu bersikap dan berkata jujur apa adanya setiap saat, hingga aku hampir
lupa, kejujuran ini mungkin saja
membebaninya.
Keadaan
sulit selalu sukses menyadarkanku yang sering terbawa suasana bahagia. Suatu saat
semua tokoh akan meninggalkanku atau aku yang meninggalkan mereka.
Lalu
hidupku selalu dibayangi oleh waktu yang tak banyak kumiliki. Semua punya batas,
dan semua hal harus kulakukan baik-baik.

No comments:
Post a Comment