Friday, August 28, 2015

Payung untuk Linda {Book 1}


Linda’s POV

Dengung mulai mengganggu pendengaranku. 05.37 WIB. Pagi dan rutinitas, setelah beranjak dari tempat tidurku, kutinggalkan alarm tetap berdengung untuk membuatku tetap terjaga. Laptop di samping tempat tidur masih terbuka dengan berbagai gambar grafik masih terpampang jelas. Sedikit lagi pekerjaanku selesai.

Tuts. Akhirnya kumatikan alarm tersebut, menyenderkan badanku ke dinding dan memangku kembali laptop tersebut. Berbagai cara kuusahakan untuk mempercepat gerakan tanganku yang sudah penuh dengan ide-ide pagi hari. Aku menggelengkan kepalaku agar tetap kembali terjaga.


.

Nggak bisa gini dong. Masih kurang, ayolah. Kita akan berhadapan dengan tamu internasional malam ini, Dani.”

“Tapi, Pak,”

“Perbaiki. Siang ini saya tunggu.”

Ia menunduk kecewa, “Baik, Pak.”
-

Aku berdiri tegak di depan pintu. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 10.20 WIB, aku menghela napas. Menatap identitas pemilik di balik pintu ini.

Direktur Marketing – Andi Swandhika.

Ya Linda silahkan masuk.” Ku dengar suara samar-samar dari dalam pintu tersebut. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan meyakinkan diri.

“Selamat pagi, Pak Andi.”

Yes, please take a sit and continue.”

Dani melewatiku dengan tatapan sayu, aku menatapnya iba dan kembali menatap bosku.
Setelah duduk, aku langsung menyodorkan iPad yang telah terbuka screen­-nya.

“Setelah menganalisis konsumen terkini, sudah ada permintaan baru yang dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan kita dalam meningkatkan pemuasan konsumen.” Aku menggeser slide selanjutnya,

“Dari bagian fashion and design, kemudahan akan terjamin setelah membantu mereka menyediakan fasilitas di tempat umum tanpa menjadi polusi mata bagi mereka, barcode.”
Pak Andi mengerutkan dahinya.

“Kami akan bekerja sama dengan pemerintah untuk memberikan fasilitas dinding-dinding di tempat umum yang telah terhitung kuantitas padat penduduk pada jam-jam tertentu. Dinding-dinding tersebut akan menjadi screen touch untuk pilihan berbagai fashion terkini yang akan selalu berganti setiap beberapa jam sekali, standar database disamakan dengan online shop, kemudian terdapat barcode untuk keputusan pembelian dengan cara memfotonya, Pak. Setelahnya, konsumen dapat mengisi database alamat dan berbagai kepentingan lainnya untuk pengiriman barang.”
Slide-ku telah habis.

“Bagaimana dengan budgetting?”
File tergeser dan membuka slide baru.

.

17.09 WIB. Aku beranjak dari bangku rodaku, di desain senyaman mungkin agar karyawan tetap bisa bersender tegas dan bebas selama proses bekerja. Mematikan PC, beberapa file kumasukkan ke map hijau lalu kumasukkan ke lemari meja. Posisi meja karyawan yang berbaris zig-zag, kayu mahoni dan tapak meja marbel sudah tertutupi oleh puluhan sticky notes warna-warni sebagai memo janji-janji karyawan untuk deadline dan sedikit tanda semangat. Pemandangan terakhir yang biasa kulihat sebelum meninggalkan kantor—Rian yang mengacak-acak file-nya beberapa kali, Dani yang menatap layar monitornya dengan murung, dan beberapa karyawan lainnya yang sama denganku—bersiap pulang. Aku bergegas meninggalkan kantor dengan sedikit terburu-buru. Getaran telepon di dalam tas pinggangku sedikit menghentikan gerakanku,

“Ya, cafe biasa. Nggak, aku sendiri. Maaf, aku tak bisa lama-lama, ada deadline baru. Baiklah, tunggu sebentar.”

Aku melirik warna lampu penyebrangan telah berubah hijau dan mengikuti arus orang-orang yang memiliki kesibukan yang sama di jalan raya Jakarta Pusat. Sepatu hakku meramaikan suara ketukan dengan para karyawan wanita lainnya di sekitarku. Ketika di penghujung penyebrangan, kesabaranku menipis hingga tak melihat pembatas trotoar telah berada di depanku, aku terantuk dan berhasil membuat stocking-ku robek. Orang-orang tak acuh dan meninggalkan keadaanku yang masih duduk di sisi trotoar. Sudah kedua kalinya sepatu hak sialan ini patah.
Seseorang menggenggam lenganku dan menarikku ke tempat yang lebih aman. Ia sama sekali tak berbicara dan meninggalkanku lebih dulu di depan trotoar.

“Terima ka,” Senyuman yang siap terbuka lebar mendadak hilang. “Tak bisakah kau menungguku di cafe saja.” Rutukku.

Ia kembali dan menggenggam tubuhku, “Sejak tadi aku di belakangmu, ku kira kau akan sadar.”

Oh ya?” Tanyaku sarkas.

Ia mengangkat bahunya acuh, “Yuk, ku bantu.”

“Tak perlu, Andi” Jawabku ketus dan melepas genggamannya. Ia menghela napas.

.

Aku membaca menu membosankan ini, beberapa kali melirik jam tangan dan mengetukkan high heels. 17.56 WIB.

“Buru-buru lagi?”

“Kau baru saja memberiku tugas baru, bos.”

Ia tersenyum licik.

“Lalu?”

“Kau kira aku punya waktu untuk makan malam denganmu?”

“Kita batalkan saja?”

“Tidak, aku hanya perlu menghabiskan main course­-ku lalu bergegas pulang.”

“Lin, deadline-nya masih dua minggu lagi. Gerak cepat, seperti biasanya. Nikmati saja dulu malam ini, sudah beberapa hari ini kau menghilang sehabis pulang kerja dan tak membalas chat-ku.”

“Kamu tau sendiri apa yang kukerjakan, aku sibuk.” Andi menaikkan alisnya.

You think,” Andi mengatupkan kembali mulutnya, “Nevermind. Ada kendala untuk tugas selanjutnya? Presentasimu pagi tadi cukup memuaskan.”

“Nanti kuhubungi apabila ada kesulitan. Ugh, I’m starving.”

Ia tertawa pelan, aku memajukan bibirku beberapa mili dan menumpu tanganku di bibir meja.
“Perjanjian malam ini. Tidak ada perbincangan mengenai pekerjaan satu jam ke depan. Aku ada meeting lagi jam 19.30 WIB.” Sambil memperlihatkan waktu di layar smartphone miliknya.

I know.

Ia mengangguk pelan.

“Setelah meeting aku akan mengunjungi apartement-mu, aku malas pulang.”

Whatever.”

Andi sudah terbiasa dengan ketusanku yang hampir selalu menemaninya selama delapan tahun ini. Ia juga sudah terbiasa mengunjungiku apabila ia tak ingin pulang baik ke rumahnya maupun apartement miliknya sendiri. Meskipun apartement-nya tepat berada satu lantai di bawahku.

“Memang apa yang terjadi? Kali ini tempat tinggalmu banyak kecoak atau apa gitu?”

“Kita sudah pernah membahas ini, Lin. Aku nggak betah.”

None of my bussiness,”

“Dan apartement-mu kelewat berantakan.” Lanjutnya. Aku membelalakkan mataku dan langsung menutup mulutnya.

Ia terkikik dan melepaskan mulutnya dari tanganku, “Aku akan merapikannya untukmu.”

“Kamu juga sibuk, bos. Perlukah kusebutkan agenda apa saja yang harus kau hadiri dan kerjakan?”

No, thank you.” Jawabnya jelas.

I have my own secretary.

Yeah, that’s me.” Jawabku sarkastik.

Lucunya, Andi memang sudah memiliki sekretaris, namun ia akan menjalankannya apabila aku yang berbicara dengannya. Beberapa kali ia mengeluhkan sekretarisnya yang jelas tak bisa mengendalikannya.

Ia menyeringai, “Apa kau saja yang jadi sekretarisku?”

I love my job, do not interrupt me.

Who’s the boss here, Lady?”

“C’mon, aku telah menjalankan apa yang bisa kulakukan.”

Okay, merapikan apartement-mu berarti telah kau setujui. Deal.” Ia memutuskannya sendiri.

Aku memutar bola mataku, waiter memotong percakapan kami karena makananku-lah yang datang pertama.

Me first.”

.

No comments:

Post a Comment