Tak ada yang perlu mencariku. Beberapa hari ini saja,
biarkan aku menikmati hilang dari keberadaan orang-orang sekitarku. Meskipun
mimpiku semakin buruk, meskipun aku menangis atas kejamnya dunia terhadapku,
setelah aku keluar dari gua hidupku ini aku sudah siap. Aku berani menghadapi
semua hala rintang sekalipun belum pernah kulewati sebelumnya. Seperti
kehilangan orang yang kusayangi. Seperti melanjutkan jenjang hubungan yang
lebih banyak tantangan dan pelik dari pihak selain kami. Seperti menjelaskan
apa yang perlu diluruskan ketika orang meminta. Seperti menjadi bagian dari
hidup seseorang di luar keluarga kecilku. Seperti terbiasa menyaksikan pasangan
suami istri yang sama-sama tidak tahan satu sama lain. Aku akan siap, sebentar
lagi. Biarkan aku, lepaskan beberapa hari ini saja. Aku tahu dan aku yakin
mereka tidak akan mencariku juga.
Jangan cari aku.
Seseorang mengetuk pintu.
Jangan. Kumohon.
“S-siapa?”
“Kamu tahu aku.”
“Pulanglah, Dan.”
“Kau menghilang. Ada apa? Kau baik-baik saja?”
“Ya, tinggalkan aku. Jangan cari aku.”
“Yakinkan aku. Tunjukkan ragamu agar kupercaya.”
Aku memutar bola mataku, “Hh, baiklah. Berjanji
setelah ini kau pergi.”
Ia tak menjawab.
Aku membuka pintu berbahan kayu mahoni ini dan
langsung tertutup oleh tubuh yang sebenarnya sangat ingin kugapai, tapi
kutahan.
“Sudah?”
Ia menatapku dari bawah hingga ke pucuk rambutku yang
paling atas dan berantakan.
Ia mencoba meraih tanganku namun aku berjalan mundur
selangkah.
“Jika kau menyentuhku, aku tak ingin kau pergi.”
“Kalau begitu biarkan aku menyentuhmu.”
“Jangan, Dan.. Aku ingin sendiri. Biarkan aku, lepaskan.”
“Karena kemarin..?” tanyanya ragu
“…” aku menatap kosong ubin rumahku.
Aku mendengar napas beratnya semakin menjauh.
“Kau perlu berpikir atau kau ingin kita melupakan
pembicaraan tempo hari?”
Aku semakin menutup bibirku dan memaksa diri untuk
berbicara
“J-jangan, pergi..”
Ia langsung memelukku lebih erat dan hangat
dibandingkan berjuta-juta menit yang telah kami lewati bersama. Aku
membutuhkannya, aku benci.
“Aku benci,”
“Karena kamu butuh aku.” Balasnya
Aku menangis lebih deras dibandingkan ketika
kehilangan nenek kesayanganku.
“Aku,”
“Ingin diriku” Balasnya lagi.
Ia terus meneruskan kalimatku. Aku mengangguk kaku.

No comments:
Post a Comment