Friday, August 28, 2015

Berikanku Judul untuk Cerita Tentangnya


Tak ada yang perlu mencariku. Beberapa hari ini saja, biarkan aku menikmati hilang dari keberadaan orang-orang sekitarku. Meskipun mimpiku semakin buruk, meskipun aku menangis atas kejamnya dunia terhadapku, setelah aku keluar dari gua hidupku ini aku sudah siap. Aku berani menghadapi semua hala rintang sekalipun belum pernah kulewati sebelumnya. Seperti kehilangan orang yang kusayangi. Seperti melanjutkan jenjang hubungan yang lebih banyak tantangan dan pelik dari pihak selain kami. Seperti menjelaskan apa yang perlu diluruskan ketika orang meminta. Seperti menjadi bagian dari hidup seseorang di luar keluarga kecilku. Seperti terbiasa menyaksikan pasangan suami istri yang sama-sama tidak tahan satu sama lain. Aku akan siap, sebentar lagi. Biarkan aku, lepaskan beberapa hari ini saja. Aku tahu dan aku yakin mereka tidak akan mencariku juga.


Jangan cari aku.

Seseorang mengetuk pintu.

Jangan. Kumohon.

“S-siapa?”

“Kamu tahu aku.”

“Pulanglah, Dan.”

“Kau menghilang. Ada apa? Kau baik-baik saja?”

“Ya, tinggalkan aku. Jangan cari aku.”

“Yakinkan aku. Tunjukkan ragamu agar kupercaya.”

Aku memutar bola mataku, “Hh, baiklah. Berjanji setelah ini kau pergi.”

Ia tak menjawab.

Aku membuka pintu berbahan kayu mahoni ini dan langsung tertutup oleh tubuh yang sebenarnya sangat ingin kugapai, tapi kutahan.

“Sudah?”

Ia menatapku dari bawah hingga ke pucuk rambutku yang paling atas dan berantakan.

Ia mencoba meraih tanganku namun aku berjalan mundur selangkah.

“Jika kau menyentuhku, aku tak ingin kau pergi.”

“Kalau begitu biarkan aku menyentuhmu.”

“Jangan, Dan.. Aku ingin sendiri. Biarkan aku, lepaskan.”

“Karena kemarin..?” tanyanya ragu

“…” aku menatap kosong ubin rumahku.

Aku mendengar napas beratnya semakin menjauh.

“Kau perlu berpikir atau kau ingin kita melupakan pembicaraan tempo hari?”

Aku semakin menutup bibirku dan memaksa diri untuk berbicara

“J-jangan, pergi..”

Ia langsung memelukku lebih erat dan hangat dibandingkan berjuta-juta menit yang telah kami lewati bersama. Aku membutuhkannya, aku benci.

“Aku benci,”

“Karena kamu butuh aku.” Balasnya

Aku menangis lebih deras dibandingkan ketika kehilangan nenek kesayanganku.

“Aku,”

“Ingin diriku” Balasnya lagi.


Ia terus meneruskan kalimatku. Aku mengangguk kaku.

No comments:

Post a Comment