Ada
banyak hal yang dirasa tak perlu banyak kami kejar dengan terburu-buru. Aku
ingin dewasa, dengannya, dengan mereka, menjadi kami. Aku ingin pengalamanku
utuh untuk bekal menghadapi masa depan. Mereka tidak menertawakanku sama
sekali. Kami bercengkerama dengan mereka dan semua cukup. Aku bahagia, kamu
tersenyum puas, dan mereka melengkapi satu sama lain karena keberadaan.
“Tidak
di belakang laptop dan kamu hanya perlu bertemu banyak orang. Kamu suka
bertanya, akan sangat berguna nantinya. Potensi bisa dimulai dari mana saja
asal kamu yakin.”
Aku
tidak mengutip secara detail, karena buruknya ingatanku akan dunia verbal dan
potongan dialog tadi sudah mewakilkan dari poin utamanya.
Mental
perlu diasah, hanya perlu cari terlebih dahulu apa yang kumau. Kami dan mereka
berdiskusi dalam rangka awal mula perjalanan masa depanku—yang tentu saja
kuharap menjadi kami—sebagai bukti pertama bahwa aku siap menjadi dewasa.
Bukan, aku bukan ingin terburu-buru, tapi kurasa sudah waktunya aku dewasanya. Kurasa
menjadi kata yang salah, karena aku memang sudah harus dewasa untuk menjadi
kami.
Aku
tidak berekspektasi. Aku berharap dari apapun yang terjadi memang nantinya
terbaik untuk kami. Aku, si realitas rendah berharap kamu tahu, dunia tak perlu
kau lihat sebulat itu. Tak pernah ada pola yang berhasil kubentuk di setiap
paragrafku, tapi kesejukan selalu mengikuti alur untuk meyakinkan diri kami
sendiri. Kami tak perlu takut dengan siapa kami harus berhadapan, bagaimana
kami menghadapinya, apa lagi tantangan yang siapa berikan, dan
ketakutan-ketakutan lainnya. Karena kamu hanya perlu tahu, selama keyakinan itu
ada, aku ada. Selama doamu berjalan, Dia memberikannya. Serta selama kamu hadir
untuk menghadapi apapun zat itu, akan selalu ada waktu menjadi kami yang telah
ditunggu-tunggu.

No comments:
Post a Comment